Selasa, 31 Januari 2012

MENETASKAN TELUR AYAM

Ayam petelur yang dipelihara sebagai penghasil telur tetas induk betinanya perlu disatukan dengan pejantan. Hal ini dimaksudkan agar telur yang dihasilkan dibuahi atau fertil, sebab bila telur tersebut tidak dibuahi akibatnya tidak akan menetas. Namun demikian tidak semua telur fertile akan menetas dengan dengan baik, banyak faktor yang berpengaruh di dalamnya. Sehubungan dengan hal ini maka untuk memperoleh daya tetas yang baik dalam penetasan buatan diperlukan pengetahuan/keterampilan tentang :
1. Cara-cara memproduksi telur tetas.
2. Pemilihan telur tetas (seleksi telur tetas), yaitu memilih telur tetas yang baik untuk  
    ditetaskan dan cara penyimpanannya.
3. Operasional penetasan.
4. Penanganan anak ayam sesudah menetas.
Didalam setiap kegiatan belajar dicoba dijelaskan tentang teori secara singkat, prinsif kerja peralatan, prosedur pelaksanaan, kegagalan yang sering terjadi dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan. Beberapa gambar dicantumkan dalam tulisan ini dengan tujuan untuk membantu memperjelas teknik pelaksanaannya.
Setelah menguasai modul bahan ajar ini para siswa diharapkan mampu melakukan penetasan telur, baik dengan cara penetasan modern maupun tradisional yang merupakan bagian dari pembibitan ternak unggas.
Sebelum menyelesaikan modul ini siswa diwajibkan mengikuti kompetensi
Membibitkan Ternak (J) yang diberikan pada tahun sebelumnya, terutama
pada kompetensi Mengembangbiakan Ternak (J03).

MEMPRODUKSI TELUR TETAS
Induk betina yang dipelihara untuk tujuan penghasil telur konsumsi,
kehadiran pejantan dalam kandang tidak diperlukan karena telur untuk
konsumsi tidak usah dibuahi. Lain halnya dengan ayam petelur yang
dipelihara untuk tujuan penghasil telur tetas, pejantan dalam kandang
sangat diperlukan untuk mengawini betinanya agar telur yang dihasilkan
fertil (dibuahi), sebab bila telur tersebut tidak fertil tidak akan menetas.
Kemampuan petelur untuk menghasilkan telur fertil dengan daya tetas
yang tinggi, sesungguhnya sangat tergantung kepada kualitas betina dan
pejantannya pada saat berproduksi harus menjadi perhatian utama.
A. Pemeliharaan Masa Pertumbuhan.
(1). Pemotongan Jengger.
Dikerjakan pada ayam jantan umur sehari, dengan menggunakan gunting dan bekasnya diobati dengan yodium atau alkohol tetapi pada jenis ayam yang jenggernya tidak besar tidak diperlukan. Pemotongan jengger ini dimaksudkan agar pada saat dewasa,
jenggernya tidak tumbuh menjadi besar yang biasanya menghalangi mata dan sangat menggangu waktu perkawinan, sehingga fertilitas menurun.
(2). Pemotongan Paruh gpada Anak Ayam Betina
Anak ayam biasanya dipotong paruhnya antara umur 6 – 9 hari, baik paruh bagian atas dan bawahnya. Paruh yang dipotong sekitar 1/3 dari panjang paruh. Hal ini sangat bermanfaat untuk mencegah banyaknya ransum yang tercecer dan penggunaan ransum menjadi lebih efisien. Alat pemotong paruh bisa digunakan pisau yang dipijarkan (temperature 1500 0F) atau dengan menggunakan alat pemotong paruh secara khusus seperti gambar diatas. Pada jantan pemotongan paruh ini hanya sedikit sekali pada bagian ujung paruh agar tidak terlalu tajam.
(3). Pemotongan Jari Kaki Bagian Belakang. Pada jari kaki anak ayam bagian belakang sebaiknya dipotong tepat pada persendian ujung jari tersebut saat mencapai dewasa, kukunya melukai punggung betina yang dikawininya. Bila punggung betina terluka dan terjadi infeksi, maka betina tidak mau kawin dan akhirnya telur yang dihasilkan banyak yang
kosong. Pemotongan jari kaki ini dilakukan pada umur satu hari. Pemotong Jari Kaki
(4). Menyatukan Jantan dengan Betina
Dalam pembibitan, pemeliharaan calon pejantan sebelum dewasa biasanya dipisah dari betina dengan tujuan agar kita bisa memilih yang baik dari kelompoknya dan juga penanganannya berbeda. Ada beberapa metoda untuk menyatukan jantan dengan betina
berdasarkan umurnya.
a. Jantan dipisah dengan betina sampai umur 4 minggu, sistem ini mungkin yang paling menguntungkan seperti berkurangnya kanibalisme pada saat jantan disatukan dengan betina. Juga dengan disatukannya sejak awal akan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dan membentuk kelompok (group) sehingga sangat membantu untuk menigkatkan jumlah telur fertil pada saat berproduksi.
b. Jantan dipisah dengan betina sampai mencapai umur 10 minggu, tetapi dengan sistem ini kanibalisme agak sedikit lebih tinggi. Keuntungannya kita dapat memilih jantan yang tepat untuk dijadikan pejantan yang mungkin mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengawini betinanya.
c. Jantan dan betina, pemeliharaannya dipisah sampai umur 20 minggu dan setelah 20 minggu baru disatukan. Dengan sistim ini biasanya stress pada betina lebih tinggi sehingga sehingga sering menyebabkan keterlambatan bertelur dan fertilitas telur untuk
beberapa waktu rendah.
(5).Sebelum betina mulai berproduksi, jantan atau betina yang kualitasnya jelek sebaiknya diafkir dari kelompoknya karena tidak akan produktif dalam menghasilkan telur yang fertil. Pengafkiran pada jantan biasanya sudah mulai bisa dilakukan pada umur 6 – 8 minggu, dengan melihat beberapa faktor antara lain : berat badan, kesehatan, tegap kaki, jari kaki (normal/tidak), dada, badan, bulu, kepala dan paruh. Bila menyimpang dari keadaan yang normal, maka tidak dipakai sebagai pejantan.
(6).Penimbangan Berat Badan.
Berat badan pada saat mencapai umur dewasa kelamin sebaiknya harus sesuai dengan berat badan yang dianjurkan oleh breeder (perusahaan penghasil ayam tersebut). Bila terlalu berat dari yang dianjurkan (terlalu gemuk), umumnya akan menyebabkan :
a. Cepat mencapai dewasa kelamin (masak dini) umumnya telur yang dihasilkan pertama kecil-kecil dan setelah melalui periode waktu yang lama baru diasilkan telur yang besar.
b. Angka kematian tinggi.
c. Fertilitas telur menurun.
d. Pada jantan yang terlalu gemuk kurang mampu dalam megawini betinanya.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, sebagai pegangan untuk mengontrol berat badan ayam yang dipelihara bisa dibandingkan dengan berat yang dianjurkan oleh breeder.
Tabel 1. Berat Badan yang Dianjurkan pada Berbagai Tipe Ayam (Kg)
Umur Tipe Ringan Tipe Medium Tipe Berat
(Minggu) _ _ _ _ _ _
7 0,73 0,57 0,95 0,70 1,35 1,17
8 0,82 0,67 1,05 0,79 1,48 1,25
9 0,90 0,77 1,14 0,88 1,62 1,33
10 0,98 0,87 1,24 0,97 1,75 1,42
11 1,05 0,96 1,34 1,05 1,88 1,51
12 1,12 1,04 1,43 1,13 2,02 1,59
13 1,18 1,12 1,53 1,21 2,15 1,68
14 1,24 1,20 1,63 1,28 2,29 1,76
15 1,30 1,26 1,72 1,36 2,42 1,85
16 1,35 1,32 1,82 1,42 2,55 1,94
17 1,40 1,36 1,92 1,50 2,69 2,02
18 1,45 1,41 2,01 1,56 2,82 2,11
19 1,50 1,45 2,11 1,62 2,96 2,20
20 1,55 1,49 2,21 1,68 3,09 2,28
21 1,59 1,53 2,30 1,74 3,22 2,37
22 1,63 1,56 2,40 1,79 3,36 2,45
23 1,67 1,60 2,47 1,84 3,49 2,54
24 1,71 1,63 2,52 1,89 3,63 2,62
25 1,75 1,66 2,57 1,93 3,72 2,69
30 1,91 1,78 2,73 2,04 3,96 2,89
40 2,10 1,83 2,83 2,15 4,08 3,03
50 2,17 1,86 2,91 2,20 4,21 3,17
60 2,21 1,89 2,99 2,26 4,34 3,31
70 2,25 1,92 3,06 2,31 4,47 3,34
Sumber : North (1990)
Bila berat badan ayam yang dipelihara terlalu berat (gemuk) maka ransum yang diberikan harus dibatasi / dikurangi sehingga dengan pengurangan tersebut berat badan yang dianjurkan bisa tercapai. Penimbangan berat badan ini dapat dilakukan setiap minggu sejak mur 4 minggu. Sample bias 10% dari setiap kandang (sample tidak dipilih). Berat badan ayam dalam kandang sebaiknya harus seragam beratnya dan sebagai ukuran keseragaman dapat dihitung sebagai berikut :
Contoh :
Berat rata-rata sample ayam tipe pedaging adalah 2,60 kg. Penyimpangan berat ± 10% masih dianggap seragam, maka Jadi yang masih dianggap seragam yaitu berat antara (2,60 + 0,26)kg – (2,60 – 0,26)kg = (2,86 – 2,34)kg, selanjutnya dihitung berapa persen
berat ayam yang berada antara 2,34 – 2,86 kg dan berapa persen yang berada diatas / dibawah berat tersebut. Makin seragam berat ayam yang kita pelihara (sesuai anjuran breeder) maka fertilitas, daya tetas dan produksinya semakin baik. Sebagai patokan untuk menilai keseragaman yang masih dianggap cukup baik dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Patokan Keseragaman Berat Badan pada Berbagai Umur
Umur
(minggu)
Keseragaman dengan ± 10%
dari berat badan rata-rata
4 – 6 85 – 95 %
7 – 11 80 – 85 %
12 – 15 75 – 80 %
> 20 80 – 85 %
(7). Program Pemberian Ransum
Pada periode brooding ini (umur 1 – 5 minggu), ransum harus diberikan secara bertahap yaitu sedikit demi sedikit, tetapi pemberiannya sesering mungkin. Hal ini karena ayam baru belajar makan sehingga jatah ransum tidak cepat habis dan agar ransum yang diberikan tidak banyak terbuang atau kotor. Pemberian ransum ini harus cukup agar pada awal produksi dihasilkan telur tetas yang beratnya sesuai dengan standar. x 2,60 0,26 kg 100 = 10 = Pemberian ransum ini sebagai pegangan sudah diatur dalam buku petunjuk pemeliharaan yang dikeluarkan oleh breeder. Sebagai contoh, program pemberian ransum untuk jenis Avian mulai minggu ke 5 sampai dengan minggu ke 22 digunakan pola 5 hari makan selama seminggu dan 2 hari puasa sama seperti pada Arbor Acres.
Pola pemberian ransum ini dimaksudkan untuk mencapai berat badan standar yang dianjurkan breeder.
(8). Program Pemberian Cahaya
Program pemberian cahaya ini sangat penting terutama untuk ayam yang terlambat mencapai dewasa kelamin dan untuk membantu meningkatkan produksi. Tambahan cahaya ini bisa diberikan dalam bentuk cahaya lampu. Sebagai salah satu contoh untuk kandang yang terbuka bisa dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Program Pemberian Cahaya pada Kandang Terbuka
Umur Lama Pemberian Cahaya (jam)
Hari ke 1 s.d. ke 3 23
Hari ke 4 s.d. ke 126 12
Hari ke 127 13
Umur 19 minggu 13,5
Umur 20 minggu 14
Umur 21 minggu 14
Umur 22 minggu 15
Sumber : North (1990)
(9). Pencegahan Penyakit
Dalam usaha pembibitan, program pencegahan penyakit ini harus benar-benar dilaksanakan dengan baik karena sangat berbahaya kalau penyakit tersebut ditularkan melalui anak ayam. Sebagai contoh program pencegahan penyakit dengan vaksinasi pada usahapembibitan broiler, dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Program Pencegahan Penyakit pada Broiler Breeder
Umur Nama
Vaksin
Kegunaan Pengetrapan
5 hari ND Lasota Mencegah ND (Cekak) Tetes Mata
10 hari Coccivoc Mencegah Coccodiocis Air Minum
14 hari IB Mencegah Penyakit Pernapasan Air Minum
21 hari IBD (live) Mencegah Gumboro Air Minum
28 hari ND Lasota
Fowl Fox
Mencegah ND (Cekak)
Mencegah Cacar Ayam
Suntikan
Tusuk Sayap
7 minggu Coryza Mencegah Coryza Suntikan
10 minggu ND Roakin Mencegah ND Suntikan
12 minggu IBD (live) Mencegah Gumboro Suntikan
14 minggu IB Mencegah Penyakit Pernapasan Air Minum
16 minggu Coryza
Fowl Fox
Mencegah Coryza
Mencegah Cacar Ayam
Suntikan
Tusuk Sayap
20 minggu ND Mencegah ND Suntikan
34 minggu IB Mencegah Penyakit Pernapasan Air Minum
38 minggu IBD (live) Mencegah Gumboro Air Minum
Pencegahan penyakit pada tiap perusahaan berbeda, sangat tergantung kepada perkembangan penyakit tersebut. Selain dengan melalui vaksinasi, upaya-upaya yang biasa dilakukan dengan melalui sanitasi dan tatalaksana pemeliharaan diantaranya :
a. Menjaga kondisi litter agar tetap kering (RH = 25%) dan bersih.
b. Ventilasi kandang yang cukup, artinya udara kotor dalam kandang mudah berganti    
    dengan udara bersih dari luar.
c. Pemberian ransum yang baik kualitas dan kuantitasnya serta disesuaikan dengan buku petunjuk pemeliharaan yang dikeluarkan oleh breeder.
d. Setiap pengunjung yang akan masuk ke daerah lingkungan perusahaan harus dihapushamakan.
e. Tempat pemeliharaan anak ayam harus terpisah dari ayam dewasa.
f. Ayam yang sakit segera diafkir karena sangat membahayakan ayam yang lainnya.
g. Burung-burung liar atau hewan lainnya dijaga agar tidak bisa masuk ke dalam kandang.
h. Air minum yang diberikan harus bersih.
B. Pengelolaan Fase Produksi
Ayam telah dikatakan telah mulai berproduksi apabila produksinya telah mencapai 5% Hen-day. Hal-hal yang sangat penting diperhatikan dalam proses produksi telur tetas, diantaranya menyangkut :
(1). Umur Pejantan.
Pejantan sebaiknya tidak digunakan yang berumur kurang dari 6 bulan dan tidak lebih dari umur 2 tahun, karena kalau lebih dari 2 tahun kemampuan kawinnya sudah jauh menurun.
(2). Perbandingan Jantan dengan Betina
Pada tiap jenis ayam yang mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mengawini betinanya. Pada jenis ayam yang berat badannya tinggi kemampuan mengawini betinanya lebih rendah dibandingkan dengan pejantan dari jenis ayam yang berat badannya kecil.
Sehubungan dengan hal ini maka untuk memperoleh fertilitas telur yang tinggi, perbandingan antara jantan dan betina harus disesuaikan. Untuk ayam tipe ringan yaitu 1_ : 10-15 _, untuk ayam tipe medium 1_ : 9 –10 _ dan untuk ayam tipe pedaging 1_ : 8 – 9 _.
(3). Program Pemberian Ransum
Pemberian ransum pada induk, biasanya sudah ditetapkan dalam buku petunjuk pemeliharaan dari ayam tersebut yang dikeluarkan oleh breeder, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Tempat pakan induk jantan biasanya digantung lebih tinggi sehingga tidak terjangkau oleh betina, tempat pakan betina biasanya memakai grill agar jantan tidak dapat makan di tempat betina
(4). Kepadatan Kandang
Luas lantai kandang untuk induk penghasil telur tetas, perlu disediakan lebih luas dibandingkan dengan ayam petelur penghasil telur konsumsi. Sebagai gambaran dapat dilihat pada table dibawah ini Tipe Lantai Kandang Ayam
Tipe Ringan
(ekor / m2)
Ayam
Tipe Medium
(ekor / m2)
Ayam
Tipe Pedaging
(ekor / m2)
Litter 5,4 4,8 3,6
Slatt & Litter
(60%Slatt + 40%Litter)
6,2 5,3 4,4
All Slatt 8,3 7,2 5,4
Semakin padat ayam dalam kandang, maka fertilitas telur yang dihasilkan akan semakin menurun.
(5). Penimbangan Berat Badan
Pada fase produksi, ayam induk penghasil telur tetas sebaiknya tidak terlalu gemuk. Cara-cara pengontrolan berat badan sama seperti pengontrolan berat badan pada saat mencapai dewasa kelamin.
Bila ayam yang dipelihara terlalu gemuk, maka ransum yang diberikan sebaikmya dikurangi dan bila kurang dari berat yang dianjurkan, ransumnya ditambah. Ayam-ayam betina yang terlalu gemuk biasanya produksinya rendah dan jantan yang gemuk kemampuan kawinnya rendah.
(6). Sangkar.
Untuk satu sangkar biasanya disediakan untuk 3 – 5 ekor ayam petelur, tergantung kepada besar badan ayam. Lantai sangkar harus memakai sekam setebal ± 5 cm agar telur tidak pecah atau retak. Sangkar ini harus sudah terpasang dalam kandang sejak umur 15 minggu. Sangkar sebaiknya ditempatkan dibagian kandang yang aman.
(7). Egg Tray
Egg tray adalah tempat menyimpan telur sebelum ditetaskan. Dalam penyimpanan biasanya bagian tumpul telur diletakkan disebelah atas, agar daya tetas tidak menurun. Untuk menjaga sanitasi pada waktu ayam berproduksi, maka egg tray sebelum digunakan harus dihapushamakan (disanitasi). Begitu pula pegawainya biasanya dihapushamakan.
 (8). Pengambilan Telur
Telur yang akan ditetaskan sekurang-kurangnya harus mempunyai berat antara 50 – 65 gram/butir, tidak lebih dari umur 7 hari dan berasal dari induk yang sekurang-kurangnya berumur 28 minggu dan tidak lebih dari 72 minggu. Pada saat mulai berproduksi, pengambilan telur dilakukan dua kali yaitu pukul 09.00 dan pukul 14.00, tetapi setelah telur mulai ditetaskan maka pengambilan telur dilakukan 4 kali yaitu pukul 08.00, 10.00, 13.00,
14.00. Setelah selesai pengambilan telur, segera difumigasi; agar tidak ada bibit penyakit yang masuk keruang penetasan.
(9). Pengelolaan pada sistem lantai litter.
Litter yang bersih dan kering pada pemeliharaan ini sangat penting, selain ayam akan sehat juga mencegah agar kaki ayam tidak kotor, sebab apabila kotor akan mengotori sarang dan telur. Telur kotor juga sering diperoleh bila ayam bertelur dilantai litter. Bagi telur yang derajat kekotorannya ringan, bisa dibersihkan dengan mengosok dengan kertas semen, tetapi bila terlalu kotor sebaiknya diafkir. Pada kondisi litter yang sudah keras, litter sarang yang sudah tipis, telur tetas akan banyak yang pecah. Oleh karena itu perlu diperhatikan litter dalam sarang harus cukup tebal dan lantai litter yang sudah keras.segera diganti.
(10). Kandang Sistim Slat dan Litter
Keterangan :
Lt = lantai yang ditutup sekam
(lantai litter)
S = sarang (sangkar)
Ls = lantai slat (lantai yang terdiri
dari bilah-bilah kayu)
Lantai Kandang Sistem Slat dan Litter
Sistim kandang seperti ini, biasanya banyak digunakan terutama untuk
induk ayam penghasil telur tetas ayam pedaging. Bagian slat sekitar 60%
dan litter 40%. Bila ada ayam yang bertelur di slat harus segera diambil
karena akan mudah pecah atau rusak, begitu pula bila bertelur dilantai litter.
Pengelolaan Pejantan agar Diperoleh Fertilitas yang Tinggi Perkawinan
pada ayam biasanya terjadi pada pagi hari dan sore hari, frekwensi kawin
dari seekor pejantan, diantaranya dipengaruhi oleh :
(1). Tingkah Laku Sosial
Apabila pejantan takut oleh betina atau pejantan lain yang ada didalam
kelompoknya,maka perkawinan akan sangat menurun sehingga
fertilitas telur juga akan rendah.
(2). Jumlah Betina yang Tersedia
Apabila betina tersedia dalam jumlah yang cukup dan disenangi oleh
pejantan, maka dorongan untuk melakukan perkawinan pada jantan
sangat besar.
(3). Temperatur Lingkungan
Apabila temperatur lingkungan dalam keadaan panas (>26oC), maka
frekwensi perkawinan akan menurun karena dalam kondisi ini ayam
akan mengurangi aktifitasnya, misalnya dengan merentangkan sayap
untuk mengeluarkan panas tubuhnya.
(4). Kualitas Pejantan
Pada periode perkawinan, harus diperhatikan betul tentang kualitas
pejantan. Pejantan yang imferior sebaiknya dikeluarkan dan diganti
dengan pejantan yang baru, karena telur tetas yang dihasilkan
fertilitasnya rendah. Kalau pejantan sudah tidak bisa kawin dengan
betina yang biasa dikawininya, harus dikeluarkan.
(5). Jantan Harus Ada Kesempatan Berolahraga
Kandang yang dipergunakan untuk ayam penghasil telur tetas biasanya
kandang sistim slat dan litter terutama untuk jenis ayam pedaging. Hal
ini dimaksudkan agar ayam jantan bisa naik dari lantai litter ke lantai
slat dan sebaliknya. Juga dengan ditempatkannya tempat pakan yang
lebih tinggi khusus untuk jantan maka pada saat mengambil makanan
harus mengangkat badannya dan meninggikan lehernya sehingga hal
ini dijadikan untuk olah raga bagi ayam jantan tersebut.


Lembar Kerja
1. Alat :
- Gunting
- Alat pemotong paruh (elektric debeaker)
- Calculator
- Lampu penerang
- Jarum suntik biasa / otomatis
- Egg tray
2. Bahan :
- Vaksin ND, Coccivac, IBD, Fowl Fok, Coryza
- Yodium / alkohol
- Desinfectan (bromoquad, Tektrol, Formalin 40%, KMnO4)
- Obat-obatan.
3. Keselamatan Kerja :
- Sepatu kandang
- Pakaian kandang
4. Langkah Kerja :
v Setiap akan memulai pekerjaan pakai sepatu kandang dan pakaian
kandang.
v Pemotongan jengger anak ayam umur sehari.
- Sediakan gunting yang bersih.
- Sediakan yodium/alkohol kalau ada.
- Potong jengger dengan gunting.
- Oles jengger bekas digunting oleh yodium/alkohol.
v Pemotongan paruh anak ayam betina.
- Panaskan alat pemotong paruh
- Setelah pisau pemotong pijar, paruh dipotong 1/3 dari panjang
paruh.
v Pemotongan jari kaki bagian belakang pada anak ayam jantan umur
sehari.
- Sediakan gunting pemotong yang bersih
- Sediakan yodium/alkohol.
- Pegang anak ayam dengan tangan kiri.
- Potong ujung jari kaki bagian belakang tepat pada persendiannya.
- Oles bekas menggunting dengan yodium.
- Anak ayam dilepas kembali.
v Menyatukan ayam jantan dengan betina.
- Bereskan tempat makan dan minum sebelum penangkapan
dimulai.
- Gunakan sekat dalam pemeliharaan ayam jantan,untuk
mempersempit ruang geraknya agar mudah ditangkap.
- Pilih dan pisahkan ayam jantan yang : sehat, berat badan yang
tidak terlalu berat/ringan, kaki yang kokoh, jari kaki normal,
dada lebar, bulu menutup tubuh, kepala dan paruh normal.
- Masukkan jantan terpilih kekandang betina secara bertahap
(tidak sekaligus) agar betina tidak stress.
- Lakukan pada malam hari atau sore hari.
v Pengontrolan berat badan.
- Tangkap sebagai sample ayam 10% dari tiap kandang untuk
ditimbang.
- Hitung berat rata-ratanya dan tentukan berat yang dianggap
seragam.
- Hitung nilai keseragaman berat badannya dan bandingkan
dengan patokan keseragaman berat badan.
- Bila ayam yang terlalu berat maka ransum dibatasi dan bila
terlalu ringan ransum ditambah.
v Program pemberian cahaya dan ransum.
Lakukan sesuai dengan yang dianjurkan dalam buku
petunjuk pemeliharaan.
v Pencegahan penyakit.
Ikuti program pencegahan penyakit dengan melalui vaksinasi.
Vaksinasi bisa dilakukan dengan melalui tetes mata, air minum,
suntikan dan tusuk sayap. Caranya adalah sebagai berikut :
¨  Vaksin Tetes Mata
- Potong ujung vaksin ND Pestos / Hitchner B1.
- Masukan kedalam botol yang telah ada pelarutnya.
- Tutup dengan tutup karet yang telah disediakan.
- Tangkap/pegang anak ayam dengan tangan kiri.
- Buka mata anak ayam dan teteskan vaksin ND pada mata kiri satu tetes,
dengan cara memijit bagian karet bototl vaksin sehingga menetes.
- Lepaskan kembali ayam yang tealh divaksin dan pisahkan agar tidak
bercampur dengan yang belum divaksin.
¨ Vaksin Suntik
- Sterilkan peralatan vaksinyang akan digunakan (rebus dalam air
selama 10 menit) seperti spuit, botol tempat vaksin.
- Bungkus leher botol vaksin dengan kapas dan patahkan leher botol
vaksin
- Pindahkan isi botol vaksin ke botol lain yang agak besar dan bilas isi
botol vaksin dengan aquadest serta campurkan dengan vaksin yang
telah dituangkan tadi.
- Tambahkan aquadest sesuai dengan kebutuhan kedalam botol besar
yang berisi vaksin.
- Kocok sampai rata dan bila sudah rata sudah bisa digunakan
- Sedot vaksin dengan alat suntik. (spuit) dan hindarkan gelembung
udara pada spuit, dengan cara menekan cairan keluar dari jamur.
Caranya : Biasanya kemasan botol vaksin ada yang untuk 100 ekor, 500
ekor dan 1000 ekor. Dan untuk anak ayam digunakan ½ dosis
dari ayam dewasa. Bila kita gunakan vaksin untuk 100 ekor
maka kita larutkan dengan 10 cc aquadest dan kita bagi
dengan 100 ekor. Maka tiap kali menyuntik harus 0,1 ml/ekor.
- Pegang kedua kaki ayam dengan tangan kiri dan balikan posisi ayam
sehingga bagian dada ada diatas.
- Jepit bagian sayap dan leher dibawah ketiak tangan kiri.
- Tusukan jarum suntik dibagian daging dada dengan kedalaman 0,5
cm dengan kemiringan 300 dan tekan gagang spuit perlahan-lahan
sehingga cairan vaksin masuk kedalam daging dada 0,1 ml.
- Alat suntik ini juga bisa menggunakan yang otomatis artinya volume
suntikan dapat distel.
¨ Vaksin Air Minum
- Puasakan dulu ayam yang akan divaksin selama ± 3 jam.
- Patahkan leher vaksin (misalnya vaksn untuk 100 ekor)
- Sediakan air bersih dlam wadah dan diperkirakan akan habis
dalam waktu singkat (jadi jumlahnya ±¼ - ½ dari biasanya)
- Campurkan vaksin kedalam air yang ada dalam wadah dan aduk
sampai merata.
- Tuangkan air tadi kedalam tempat minum.
¨ Vaksin dengan Tusuk Sayap
- Sterilkan peralatan yang akan digunakan (jarum penusuk, alat suntik
dan tempat botol vaksin direbus 10 menit)
- Larutkan vaksin cacar dengan aquadest dan kocok hingga merata.
- Celupkan jarum penusuk kedalam vaksin cacar.
- Rentangkan sayap ayam dengan tangan kiri.
- Tusukkan jarum penusuk pada kulit ayam di bagian selaput sayap
(wing web).
- Lepaskan ayam yang telah di vaksin.
·  Ayam sakit segera diafkir (dipisahkan)
·  Bila ada pegawai atau pengunjung ke daerah perusahaan harus
dihapushamakan pada tempat yang tersedia.
·  Sediakan air minum yang bersih untuk ayam.
·  Egg tray dihapushamakan bila akan dipergunakan.
·  Telur yang kotornya ringan dibersihkan dan yang kotornya berat
diafkir.
·  Telur difumigasi sebelum masuk ruang penetasan, cara fumigasi
lihat halaman 17.
v Pengambilan telur.
- Lakukan pengambilan telur 3 – 4 kali / hari dari sangkar.
- Bila ada ayam yang bertelur dilantai slat atau litter harus segera
diambil.
- Telur ditempatkan pada egg tray dengan bagian tumpul
menghadap keatas.
- Periksa sangkar, bila litternya sudah tipis segera ditambah.
v Pengelolaan pejantan.
- Jantan yang sudah tidak mau kawin segera ganti dengan yang
baru.
- Jantan yang tidak sehat segera diafkir dan diganti dengan yang
baru (memasukkan jantan sebaiknya pada hari gelap)
- Perbandingan jantan dengan betina harus tetap, jadi kalau berlebih
harus dikeluarkan dan sebaliknya.


PEMILIHAN TELUR TETAS
Bila dilihat dari kondisi fisik telur yang dihasilkan dari kandang pembibitan,
biasanya tidak semuanya bagus untuk ditetaskan. Oleh karena itu untuk
mempertahankan daya tetas yang tinggi, telur-telur tidak memenuhi syarat
sebagai telur tetas sebaiknya diafkir. Dengan kata lain, kita perlu
mengadakan seleksi terhadap telur-telur yang dihasilkan. Seleksi telur pada
umumnya didasarkan kepada :
1. Berat Telur
Untuk telur ayam ras, minimal beratnya sekitar 50 gram dan setinggitingginya
65 gram. Telur yang terlalu besar, biasanya kuning telurnya
ganda dan tidak menetas walaupun dieramkan. Sebaliknya telur yang
terlalu kecil, juga kurang menetas dengan baik.
2. Bentuk Telur
Telur-telur yang bentuknya menyimpang dari keadaan normal, umumnya
kurang menetas dengan baik. Telur yang bentuknya normal yaitu telur
yang mempunyai perbandingan antara panjang dan lebarnya 2 : 3.
Bentuk oval.
3. Keutuhan Kulit Telur
Telur-telur yag dalam keadaan retak / pecah tetapi isi telur tidak keluar,
tidak menetas dengan baik.
4. Kualitas Kulit Telur
Telur dengan kulit yang tipis, kulit telur lembek, keadaan perkapuran yang
kurang merata, umumnya kurang menetas dengan baik. Tebal kulit telur
yang normal berkisar antara 0,33 – 0,35 mm.
5. Warna Kulit Telur
Warna kulit telur sangat berpengaruh terhadap daya tetas telur. Apabila
dari sekelompok ayam petelur menghasilkan telur yang kulitnya lebih
gelap, maka akan menetas lebih baik dari yang berwarna lebih terang.
6. Kebersihan Kulit Telur
Telur yang kotor sebaiknya tidak ditetaskan, karena telur yang kotor
biasanya daya tetasnya rendah. Bisa dibersihkan dengan menggunakan
kertas semen (bila kotorannya ringan) atau dibersihkan dengan air hangat
(temperatur 550 C) kemudian dikeringkan.
Pada suatu saat telur yang dihasilkan perlu disimpan untuk beberapa hari
karena dalam mesin tetas sudah penuh. Dalam kondisi seperti ini, telur
jangan disimpan lebih dari satu atau dua minggu karena memerlukan
penanganan khusus untuk mempertahankan daya tetasnya, diantaranya :
a. Temperatur Penyimpanan.
Temperatur penyimpanan telur sebaiknya tidak terlalu panas atau terlalu
dingin. Bila temperatur lingkungan yang panas (>270 C) embryo akan
berkembang, tetapi perkembangan itu tidak normal dan kebanyakan mati
sebelum atau sesudah berada dalam mesin tetas. Sebaliknya bila
disimpan pada temperatur yang terlalu dingin maka daya tetas akan
menurun. Temperatur penyimpanan telur yang baik yaitu sekitar 18,30 C
bila telur disimpan tidak lebih dari 14 hari. Bila telur tetas akan disimpan
lebih dari 14 hari, maka penyimpanan telur sekitar 10,50 C. Sebelum telur
disimpan, harus difumigasi terlebih dahulu biasanya menggunakan
KMnO4 dan formalin 40%.
b. Kelembaban Penyimpanan.
Selama dalam penyimpanan, dari bagian dalm telur akan terjadi
penguapan yang menyebabkan rongga udara dalam telur menjadi besar.
Untuk mencegah adanya penguapan ini dapat dilakukan dengan
meningkatkan kelembaban penyimpanan. Kelembaban penyimpanan
telur yang baik yaitu sekitar 75 – 85%.
c. Lama penyimpanan.
Bila telur terlalu lama disimpan, maka daya tetas akan terus menurun.
Oleh karena itu pada kondisi perusahaan biasanya telur ditetaskan dalam
2 kali per minggu. Dengan demikian telur yang dimasukkan ke dalam
mesin tetas adalah yang berumur 3 hari, 2 hari, dan satu hari. Menurut
beberapa hasil penelitian, lama penyimpanan telur yang baik yaitu sekitar
1 – 4 hari.
d. Posisi Telur Selama Penyimpanan.
Telur sebaiknya ditempatkan pada egg tray dengan bagian tumpul
diletakan sebelah atas. Hal ini untuk menjaga agar ruang udara dalam
telur tetap berada diujung tumpul. Seperti diketahui bahwa ruang udara
ini sangat diperlukan oleh embryo untuk perkembangannya. Bila letak
diruang udara bergeser dari ujung tumpul, daya tetas telur akan menurun.
e. Pemutaran Telur selama Penyimpanan.
Bila telur disimpan lebih dari satu minggu, sebaiknya telur diputar dengan
total pemutaran 900. Untuk telur-telur yang disimpan kurang dari satu
minggu, pemutaran tidak diperlukan.
Pemutaran Telur

OPERASIONAL PENETASAN
Apabila telur tetas akan dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan akan
dimasukan kedalam mesin tetas maka sebelumnya telur tersebut harus
bebas dari adanya kondensasi pada permukaan kulitnya. Hal ini terjadi
apabila telur disimpan pada kelembaban yang tinggi (75 – 80%) yang disertai
dengan temperatur yang rendah (18,30 C) selama dalam penyimpanan. Titiktitik
air ini perlu dihilangkan karena akan mengandung banyak bakteri
didalamnya yang pada gilirannya telur tersebut akan mudah menjadi busuk
dan daya tetas menjadi rendah. Untuk membebaskan kondensasi ini dapat
dilakukan dengan cara :
1. Mengurangi kelembaban penyimpanan sesaat sebelum telur dikeluarkan.
2. Meningkatkan temperatur ruangan penyimpanan agar menguap dengan
cepat.
Apabila kondensasi telah hilang, sebelum masuk mesin tetas, telur tetas juga
harus mengalami pemanasan terlebih dahulu pada temperatur 23,90 C
selama 6 – 8 jam. Hal ini dimaksudkan untuk merangsang embryo dalam
telur agar memulai pertumbuhannya. Disamping itu apabila telur dari ruang
penyimpanan (dalam keadaan dingin) langsung dimasukkan kedalam mesin
tetas maka temperatur mesin tetas akan segera turun dan biasanya telur
akan mengalami kelambatan menetas. Apabila telur tidak disimpan pada
tempat penyimpanan yang dingin maka pemanasan ini tidak perlu dilakukan.
Seperti diketahui bahwa dalam menetaskan telur ada dua cara yaitu
penetasan secara alam dan secara buatan. Penetasan secara alam yaitu
penetasan dengan dierami oleh induk, yang bersangkutan seperti untuk
menetaskan telur bebek bisa digunakan entog yang sedang mengeram.
Dalam modul ini akan dibicarakan tentang penetasan dengan menggunakan
mesin tetas yang sederhana dan mesin tetas modern yang biasa digunakan
oleh perusahaan peternakan unggas.
Mesin Tetas Sederhana
Pada saat sekarang ada bermacam-macam tipe mesin tetas yang biasa
digunakan para peternak besar yang bergerak dibidang pembibitan.
Perbedaan dengan mesin tetas sederhana yang biasa digunakan peternak
kecil, umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Pengaturan ventilasi udara didalamnya sangat tergantung kepada
keadaan lingkungan. Udara keluar masuk hanya melalui sebuah lubang
ventilasi yang dibuat sedemikian rupa tanpa alat / kipas yang membantu
kelancaran pertukaran udara tersebut.
2. Setter dan Hatcher disatukan, artinya tempat pengeraman telur dari mulai
masuk ke mesin tetas sampai menetas menjadi anak ayam, berada pada
tempat yang sama.
Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar.
Keterangan :
A = Setter
B = Hatcher
C = Baki air untuk pengatur kelembaban
Bagi mesin-mesin tetas yang biasa dipergunakan oleh perusahaan yang
bergerak dalam usaha pembibitan, umumnya mempunyai sedikit perbedaan
dengan mesin tetas yang sederhana, seperti :
1. Pengaturan ventilasi udara didalamnya digerakan oleh kipas, sehingga
udara kotor dalam mesin tetas dapat segera berganti dengan cepat.
Dengan adanya pengaturan ventilasi seperti ini, daya tetas umumnya
lebih baik (Forced Draft Incubator)
2. Setter dan Hatcher dipisahkan, artinya tempat pengeraman telur dari
umur satu hari sampai dengan 18 hari berbeda tempatnya dengan tempat
persiapan untuk menetas. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar
dibawah ini


Hacter Setter
Menetaskan telur untuk menjadi anak ayam, merupakan proses yang sangat
kompleks, banyak faktor yang terlibat didalamnya. Keadaaan lingkungan
dimana telur tersebut ditetaskan memegang peranan yang sangat penting,
juga posisi telur, pembalikan telur dan lainnya. Sehubungan dengan hal ini
agar penetasan berhasil, maka faktor-faktor yang perlu diperhatikan :
·  Fumigasi Mesin Tetas
Mesin tetas, bila akan dipergunakan harus difumigasi dulu, untuk
mencegah timbulnya penyakit menular yang melalui penetasan. Bahan
fumigasi yang baik dan mudah didapat serta relatif murah harganya yaitu
formalin 40% yang dicampur dengan KMnO4 dengan dosis pemakaian :
40 cc formalin 40% + 20 gram KMnO4
(digunakan untuk ruangan 2,83 m 3)
Waktu fumigasi biasanya dilakukan selama 20 menit dengan pintu mesin
tetas dalam keadaan tertutup. Kita juga bisa melakukan fumigasi setelah
telur masuk kedalam mesin tetas, tetapi tidak dilakukan pada telur-telur
yang telah berada dalam mesin tetas selama 24 – 96 jam, karena akan
membahayakan bagi perkembangan embryo di dalamnya.
·  Temperatur Penetasan
Temperatur penetasan merupakan salah satu faktor yang sangat penting,
temperatur yang tidak tepat akan menyebabkan rendahnya daya tetas.
Dalam mesin tetas yang udaranya digerakan oleh kipas untuk ventilasi
maka temperatur penetasan antara hari ke satu sampai dengan hari ke
18 yaitu sekitar 990 F – 1010 F. Setelah hari ke 18, temperatur penetasan
sebaiknya diturunkan 2 – 30 F (970 F – 990 F). Perlu dicatat bahwa
temperatur mesin tetas ini selama dipergunakan harus konstan. Bila
terjadi fluktuasi yang tinggi akan menurunkan daya tetas.
·  Kelembaban Penetasan
Kelembaban yang baik dalam mesin tetas dari hari ke 1 sampai hari ke 18
yaitu antar 50 – 60%, tetapi setelah hari ke 18 kelembaban tersebut
sebaiknya dinaikan menjadi 75%. Pada mesin tetas tradisional
pengaturan kelembaban ini dapat diatur dengan menempatkan luas
permukaan yang berbeda dari baki tempat penyimpanan air. Pada mesin
tetas yang modern, pengaturan kelembaban ini sudah diatur secara
otomatis.
·  Ventilasi Mesin Tetas
Embryo memerlukan O2
dan mengeluarkan CO2 selama dalam
perkembangannya. Apabila gas CO2 ini terlalu banyak maka mortalitas
embryo akan tinggi dan menyebabkan daya tetas telur yang rendah.
Volume CO2 yang diperlukan berkisar antara 0,5 – 0,8% ; kebutuhan O2
sekitar 21% dan kecepatan udara didalamnya 12 cm / menit. Pada mesin
tetas tradisional pengaturan ventilasi ini sangat tergantung pada alam,
sedangkan pada mesin tetas modern umumnya telah diatur secara
otomatis dengan alat khusus.
·  Posisi Telur Selama Penetasan dan Pembalikan
Posisi dan pembalikan telur selama dalam penetasan sangat penting
diperhatikan agar diperoleh daya tetas yang tinggi. Posisi telur selama
dalam penetasan, bagian tumpul hendaknya diletakan sebelah atas.
Pembalikan telur biasanya dilakukan dengan memutar 450 kekiri atau
kekanan dengan total pemutaran 900 dan hasilnya cukup memuaskan.
Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Jumlah pemutaran telur dalam penetasan telur secara komersial, cukup
3 sampai 4 kali per hari dari mulai telur dimasukan kedalam mesin tetas
sampai hari ke 18. Pemutaran ini bertujuan agar permukaan yolk (kuning
telur) tidak melekat pada membran kulit telur yang akan menurunkan
daya tetas. Apabila pemutaran ini terlalu sering, maka hal ini kurang
praktis walaupun mungkin akan menambah daya tetas. Daya tetas diatas
85% sudah dianggap cukup baik. Daya tetas dihitung dengan cara
menghitung persentase jumlah telur yang menetas dari jum lah telur yang
dimasukan ke dalam mesin tetas atau dari jumlah telur yang dibuahi
(fertil).
Bila mesin tetas yang digunakan mesin tetas tradisional, maka
pemutaran telur ini biasanya hanya dibalik dengan tangan dan
pemutaran ini dengan sendirinya kurang sempurna. Oleh karena itu daya
tetasnya juga kurang baik. Sebaliknya bila digunakan mesin tetas yang
modern pemutaran telur ini dapat dilakukan secara otomatis tinggal
menyetel alatnya, sesuai dengan yang dikehendaki.
·  Membedakan Telur Fertil dengan Candling
Tidak semua telur yang dieramkan dapat dibuahi, tetapi ada sebagian
dari telur tersebut kosong atau mati. Untuk membedakannya dapat
dilakukan dengan cara Candling (menaruh telur tersebut diatas lampu
dan dilihat) minimal setelah 72 jam telur tersebut dieramkan. Telur yang
fertil mempunyai sifat yang gelap pada yolk dengan beberapa pembuluh
darah yang terpancar dari spot tersebut, lebih besar spot, lebih nyata
embryo didalamnya. Apabila spot muncul tanpa disertai pembuluh darah
dan disertai cincin darah yang mengelilinginya, kemungkinan sel
kecambah itu mati. Untuk jelasnya bisa dilihat pada gambar.
450
450 450
kosong mati hidup
Pada perusahaan besar candling biasanya dilakukan pada hari ke 18,
bersamaan dengan memindahkan telur dari setter ke hatcher. Hal ini
dimaksudkan untuk menghemat tenaga kerja dan tidak mengganggu
telur yang sedang dieramkan, karena untuk melakukan candling dalam
jumlah besar memerlukan waktu yang cukup lama yang berakibat akan
menurunkan daya tetas telur yang lain.
·  Pemindahan Telur dari Setter ke Hatcher
Apabila telur telah dieramkan dalam mesin tetas selama 18 hari maka
telur tersebut harus dipindah ketempat khusus untuk menetas. Pada
mesin tetas tradisional yang tidak dilengkapi dengan hatcher, biasanya
tempat menetas tetap berada pada tempat yang sama. Pada mesin tetas
tradisional yang dilengkapi dengan hatcher, maka telur dipindah ke
hatcher dan biasanya ditutup dengan ram kawat untuk menjaga agar
anak ayam yang baru keluar dari telur tidak berkeliaran ke mana-mana.
Pada penetasan dengan menggunakan mesin tetas yang modern dan
merupakan usaha komersial, umumnya antara tempat setter dan hatcher
terpisah dengan mesin tetas yang berbeda. Hal ini untuk menjaga agar
pada saat memasukan telur kedalam mesin setter, tidak mengganggu
telur yang akan menetas, karena bila mengganggu akan menurunkan
daya tetas telur tersebut.
·  Pulling
Apabila anak ayam pada hari ke 21, sudah menetas dalam hatcher
sebaiknya harus segera dipindahkan atau dikeluarkan dari mesin tetas
setelah 95% bulu-bulu anak ayam tersebut kering. Proses pengeluaran
dari hatcher ini disebut dengan Pulling. Apabila warna bulu ayam supaya
terlihat lebih kuning, maka anak ayam difumigasi dengan formalin dan
KMnO4 tetapi hal ini tidak dianjurkan kecuali kalau berjangkit penyakit.
Setelah anak ayam dikeluarkan dari mesin tetas, maka proses penetasan
telah selesai dan untuk anak ayam petelur biasanya dipisahkan antara
jantan dan betinanya berdasarkan tanda-tanda jantan atau betina yang
dimilikinya. Pada penetasan dengan mesin tetas tradisional, pengeluaran
anak-anak ayam sama, apabila bulunya sudah kering.


A. Sexing Anak Ayam
Lembar Informasi
PENANGANAN ANAK AYAM SESUDAH MENETAS
Sesudah anak ayam dikeluarkan dari mesin tetas, sebaiknya tidak langsung
diberi makan atau minum, apabila akan dikirim ketempat lain yang jauh.
Anak ayam umumnya akan tahan tidak diberi makan atau minum selama
dua hari karena ia masih mempunyai cadangan makanan dalam tubuhnya
yang berasal dari kuning telur.
Pada perusahaan pembibitan ternak unggas, untuk jenis ayam petelur
biasanya antara jantan dan betinanya segera dipisahkan berdasarkan tandatanda
khusus yang dimilikinya. Pemisahan jenis kelamin ini disebut dengan
istilah sexing. Beberapa metoda untuk membedakan antara jantan dan
betina dapat dilakukan dengan :
1. Dengan melihat kloakanya
pada umur satu hari
sampai dengan 24 jam.
Pada betina ada dua titik
yang menyembul
sedangkan pada yang
jantan hanya ada satu titik
yang menyembul (lihat
pada gambar). Dalam
pemeriksaan ini perlu
dilengkapi dengan lampu
200 watt disertai latihan
yang intensif.
2. Namun demikian pada akhir-akhir ini, dengan adanya kemajuan
pengetahuan di bidang ilmu genetika maka untuk membedakan antara
jantan dan betina pada jenis ayam tertentu sudah bisa dibedakan
berdasarkan warna bulunya. Misalnya pasa hasil persilangan antara
Jantan Rhode Island Red dengan Betina Barred Playmouth Rock ternyata
menghasilkan :
Betina : hitam pada kepala dan warna kaki yang hitam
Jantan : titik putih pada kepala dan warna kaki yang kuning.
Dengan demikian untuk untuk membedakan jantan dan betina dapat
dilakukan dengan mudah.
Untuk anak ayam jenis pedaging (broiler) pemisahan jenis kelamin ini jarang
dilakukan karena para peternak umumnya memelihara ayam pedaging
antara jantan dan betinanya disatukan. Begitu pula pada pemeliharaan anak
ayam buras biasanya tidak dipisahkan.
Setelah anak ayam dipisahkan antara jantan dan betina (untuk anak ayam
jenis petelur) apabila akan dikirim ke peternak (pemesan) maka anak ayam
tersebut perlu diseleksi dulu karena tidak semua anak ayam yang telah
menetas baik untuk dipelihara. Anak-anak ayam tersebut harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
a. Anak ayam harus sehat, sebab bila dalam kondisi yang tidak sehat maka
akan menularkan penyakit dan akan merugikan pemesan.
b. Tidak cacat, karena anak ayam yang cacat biasanya pertumbuhannya
lambat, angka kematian tinggi serta perawatannya agak sulit.
c. Warna bulunya seragam, bila warna bulu anak ayam tidak seragam
artinya bibit induk penghasil anak ayam tersebut sudah tidak murni lagi.
Ada kemungkinan pertumbuhannya juga akan bervariasi / kurang baik.
d. Berat badan anak ayam yang dihasilkan biasanya berkisar antara 32,5-
42,5 gram/ekor (untuk ayam ras) sudah dianggap baik.
e. Berasal dari induk yang sehat, karena kalau induk tidak sehat akan
menular pada anak ayam melalui telur (misalnya penyakit Pullorum) yang
pada gilirannya akan menyebar ke tempat lain dengan angka kematian
yang tinggi.
f. Menetas tepat waktu (21 hari), apabila anak ayam menetas diatas 21 hari
sebaiknya tidak dimasukkan dalam kemasan.
g. Pusar kering dan bulu lengkap menutup tubuh.
Pada perusahaan pembibit, setelah dilakukan seleksi dan anak ayam
tersebut akan dikirim ke tempat pemesan biasanya dikemas dalam
kemasan karton atau plastik. Di kita kemasan ini masih dibuat dari karton
dengan ukuran panjang bagian bawah 64 cm dan bagian atas 60 cm,
lebar bagian bawah 48 cm dan bagian atas 44 cm, sedangkan tinggi
kemasan 15 cm. Kotak kemasan ini didalamnya dibagi menjadi empat
bagian dengan disekat, tiap bagian ini diisi dengan anak ayam antara 25
– 26 ekor. Jumlah anak ayam dalam kemasan sebanyak 102 ekor dan
kotak kemasan ini mempunyai ventilasi yang cukup karena pada bagian
atas, bagian samping, bagian depan dan belakang kotak kemasan diberi
lubang-lubang yang cukup banyak. Untuk jelasnya bisa dilihat pada
gambar dibawah
Kotak kemasan karton, biasanya hanya dipakai untuk satu kali pengiriman.
Untuk seleksi anak ayam dan pengemasan ini biasanya dilaksanakan di
ruang pemyimpanan (holding room) anak ayam sebelum pengiriman kepada
para pelanggan (peternak). Dalam kotak kemasan ini sebaiknya anak ayam
minimal dibiarkan selama 4 – 5 jam dikirim dan kotak kemasan harus diberi
label yang memuat keterangan tentang :
a. Tanggal dan jam anak ayam menetas.
b. Galur (Strain) dari ayam tersebut.
c. Jumlah isi kemasan.
d. Nama dan alamat perusahaan.
e. Nama pemesan/ penerima dan alamatnya.
f. Vaksinasi yang telah dilakukan.
g. Cap perusahaan pengirim.
Kemasan Plastik Kemasan Karton
Pada perusahaan pembibit, ruang penyimpanan anak ayam ini sebaiknya
mempunyai temperatur sekitar 240C untuk menghindari pengaruh udara
dingin dari luar dengan kelembaban 75% agar tidak terjadi dehydrasi
(penguapan air yang terlalu banyak yang meyebabkan kekeringan tubuh).
Anak ayam ini harus segera dikirim ke peternak dan setinggi-tingginya telah
berumur 60 jam dari sejak menetas harus sudah dapat diterima oleh
pemesan. Selama dalam penyimpanan kotak kemasan boleh ditumpuk tetapi
dianjurkan tidak lebih dari 15 tingkat.
Setelah anak ayam dalam ruang penyimpanan biasanya anak ayam dikirim
ke pelanggan dengan menggunakan truk. Truk pengirim harus bersih dan
telah disucihamakan. Penumpukan kotak kemasan dalam truk pengirim
sebaiknya tidak lebih dari 15 dan dalam satu truk tidak dibenarkan ada anak
ayam yang berasal dari perusahaan yang berbeda. Temperatur kotak
kemasan selama dalam transportasi sebaiknya sekitar 30 0C.
Apabila anak ayam di kirim ke distributor (Poultry Shop)maka tempat
penyimpanan sebelum sampai dipeternak harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
a. Anak ayam tidak disimpan lebih dari satu hari, tetapi harus segera dikirim
ke peternak.
b. Kenyamanan anak ayam harus terjamin dan tetap sehat.
c. Label harus dalam keadaan utuh dan mudah dapat dibaca dengan jelas.
Bila langsung dikirim ke peternak, kotak kemasan yang berisi anak ayam
(DOC) harus dalam keadaan utuh, tiba di peternak harus pada pagi hari.
Sebaliknya peternak yang membeli dari perusahaan harus mengecek
tentang :
a. Jumlah anak ayam yang dikirim.
b. Nama / jenis / galur ayam tersebut.
c. Waktu kedatangan anak ayam (jam, tanggal, hari, bulan).
d. Kondisi anak ayam.
Apabila terjadi keganjilan-keganjilan diluar keadaan yang normal maka
peternak bisa mengajukan keluhan ke perusahaan pengirim untuk
mendapatkan penggantian. Sehubungan dengan hal ini, agar ayam yang
terjual dari perusahaan pembibitan ini dalam keadaan sehat diantaranya
perlu diperhatikan :
(1) Setiap telur yang baru diambil dari kandang harus difumigasi sebelum
memasuki rumah penetasan.
 (2) Baki telur dari kandang, baki telur dari mesin pengeram tempat menetas
anak ayam serta kereta mesin pengeram yang sudah dipergunakan harus
bersih dan dihapushamakan sebelum dipergunakan kembali.
(3) Setiap orang yang akan memasuki ruang penetasan harus disemprot
dengan bahan desinfektan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian
yang bersih sebelum memasuki rumah penetasan.
(4) Setiap perusahaan pembibitan, induk harus bebas penyakit pullorum dan
induk mempunyai kekebalan terhadap penyakit ND.
(5) Ketentuan-ketentuan lain yang dikeluarkan oleh pemerintah yang harus di
taati oleh perusahaan pembibit.
Bagi para peternak yang menetaskan telur untuk keperluan sendiri, dalam
jumlah kecil dengan mesin tetas yang sederhana, anak ayam yang menetas
sebaiknya langsung ditempatkan ke dalam kandang pemeliharaan yang telah
disiapkan sebelumnya. Mesin tetas dan perlengkapannya dicuci bersih dan
di fumigasi apabila akan dipergunakan kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar